This post has already been read 1996 times!
(Ditulis oleh Hormayani, mahasiswa S1 Kebidanan Universitas Indonesia Maju)
Kanker leher rahim (kanker serviks) merupakan kanker yang banyak diderita wanita didunia. Berdasarkan data Globocan pada tahun 2020 kanker serviks di Indonesia menempati urutan kedua setelah kanker payudara dengan jumlah kasus baru sebanyak 36.633 orang (17,2%). Kanker ini umumnya berkembang perlahan dan baru menunjukkan gejala ketika sudah memasuki stadium lanjut. Oleh sebab itu, penting untuk mendeteksi kanker serviks sejak dini sebelum timbul komplikasi serius. Salah satu cara deteksi dini kanker serviks adalah dengan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA Test). Seperti apasih kanker serviks dan IVA Test yuk mengenal lebih dekat!
Serviks atau leher rahim adalah bagian terendah dari rahim yang terdapat pada puncak ilang senggama (vagina). Kanker serviks adalah kanker yangtumbuhpadasel-sel dileher rahim. Kanker serviks dapat berasal dari sel- sel di leher rahim, tetapi dapat juga tumbuh dari sel- sel mulut rahim ataupun keduanya.
Penyebab utama kanker serviks adalah Human Papilloma Virus (HPV). Virus HPV dapat menyebar melalui hubungan seksual terutama pada hubungan seksual yang tidak aman. Hingga saat ini hampir seratus tipe HPV berhasil diidentifikasi. Sebagian besar jenis HPV tidak berbahaya. Namun, ada beberapa jenis HPV yang diketahui dapat mengganggu sel-sel leher rahim hingga memicu kanker, yaitu HPV tipe 16 dan 18.
Terdapat berbagai macam faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks diantaranya yaitu:
Pada umumya, lesi prakanker 92% tidak mempunyai gejala, jika pun ada biasanya berupa rasa kering di vagina. Bila telah menjadi kanker serviks, gejala yang paling umum adalah perdarahan (perdarahan saat berhubungan seksual) dan keputihan. Pada stadium lanjut, gejala dapat berkembang menjadi nyeri pinggang, nyeri perut bagian bawah, nyeri kandung kemih, keluar cairan yang berbau tidak sedap, gangguan berkemih. Apabila sudah menyebar ke organ lain (metastatis) maka akan timbul gejala sesuai dengan organ yang terkena.
Mengingat tingginya angka kejadian kanker serviks sehingga upaya pencegahan sangat diperlukan. Berikut beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan:
Perjalanan penyakit kanker membutuhkan waktu lama, sehingga kanker serviks dapat dicegah dengan ditemukan sedini mungkin melalui skrining kanker serviks yaitu salah satunya dengan IVA Test. Perjalanan kanker serviks dimulai dari infeksi HPV pada serviks menyebabkan lesi prakanker dan apabila tidak dikenali sedini dan diterapi sedini mungkin berubah menjadi kanker serviks.
Tujuan dan manfaat pemeriksaan IVA diantaranya mendeteksi lesi (kerusakan jaringan tubuh) sejak dini, dapat segera diterapi apabila menghasilkan hasil positif, mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat kanker serviks.
Prosedur untuk IVA Test terbilang cukup mudah untuk dilakukan. Para ahli medis hanya perlu menyeka asam asetat atau asam cuka (3-5%), yang dilakukan pada serviks. Setelah itu akan dilihat jika terdapat area yang berubah warna. Jaringan serviks yang normal tidak akan terpengaruh oleh kandungan asam asetat tersebut. Jika terdapat sel kanker, bagian pada leher rahim tersebut akan berubah menjadi putih. Setelah dipastikan, penanganan lebih lanjut dapat dilakukan.
Seorang wanita dengan hasil tes IVA negatif, harus menjalani skrining 3 – 5 tahun sekali. Sedangkan wanita dengan hasil tes IVA positif dan mendapatkan pengobatan, harus menjalani tes IVA berikutnya enam bulan kemudian
Untuk mendapat hasil yang akurat, IVA Test hanya boleh dilakukan pada wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual, tidak sedang dalam keadaan menstruasi, tidak sedang hamil, dan ridak berhubungan seksual dalam jangka waktu 24 jam sebelum pemeriksaan.
Seseorang yang melakukan IVA Test dapat memberikan dua hasil, yaitu positif atau negatif. Saat hasil pemeriksaan positif, orang tersebut diharuskan tes lanjutan untuk benar-benar memastikan jika gangguan yang terjadi benar disebabkan oleh kanker serviks. Pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk menentukan seberapa kanker tersebut terjadi dan sejauh apa penyebarannya pada tubuh. Hal ini juga dilakukan untuk menentukan pengobatan yang tepat agar kanker serviks dapat teratasi. Tindakan yang dilakukan dokter meliputi kemoterapi, radioterapi, bedah, atau kombinasi dari ketiganya. Pengobatan tersebut akan ditentukan oleh tahapan stadium yang terjadi. Penerapan pola hidup sehat dan rutin berolahraga juga dapat dilakukan agar penyebaran dari kanker dapat ditekan.
JAKARTA - Stablecoin memiliki peran penting di ekosistem kripto sebagai jembatan antara mata uang fiat…
JAKARTA - Bitcoin, mata uang digital pertama di dunia, telah menarik perhatian investor, perusahaan, dan…
Di era teknologi informasi dan keuangan terdesentralisasi, para pedagang dan bisnis aktif mencari cara inovatif,…
JAKARTA - Bitcoin (BTC) adalah salah satu cryptocurrency paling terkenal dan paling banyak diperdagangkan di…
Ditulis oleh Ririn Murfriantika, Mahasiswi S1 Keperawatan UIMA Hai, kawan-kawan! Siapa bilang sukses hanya bisa…
Ditulis oleh Riansyah, Mahasiswa S1 Keperawatan UIMA Hai, teman-teman! Saat ini kita sedang fokus sebagai…
This website uses cookies.
View Comments
Mantap literaturnya bermanfaat
Terima kasih info nya sangat bermanfaat
Terimakasih infonya
Informasi bermanfaat terimakasih
Sangat bermanfaat
Terimakasih. Infonya sangat bermanfaat
Terimakasih infonya sgt bermanfaat
Info yg menarik
Ia mksh
Artikel yg sangat bgus