This post has already been read 1087 times!
(Ditulis oleh UTARI, mahasiswi S1 Kebidanan Universitas Indonesia Maju)
Pernikahan dini adalah hal yang sedang ramai terjadi di kalangan masyarakat Indonesia. Banyak sekali kota-kota di Indonesia yang memiliki kasus pernikahan dini tinggi. Ada beberapa daerah yang menganggap pernikahan dini sebagai tradisi atau budaya. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, jumlah pernikahan dini atau pernikahan anak pada tahun 2019 sebanyak 10,8%. Kemudian pada tahun 2020 menurun walaupun tidak signifikan yaitu sebesar 10,18%.
Dampak pernikahan dini sangatlah banyak, terutama dalam segi kesehatan, ekonomi, dan sosial. Dari segi kesehatan pernikahan dini dapat menyebabkan probibilitas kasus stunting di Indonesia, bayi lahir cacat, bayi lahir prematur, BBLR (Berat Badan Bayi Rendah) dan berbagai resiko lainnya dikarenakan usia ibu yang sangat muda serta berpengaruh terhadap kesehatan mental masing-masing individu yang menikah dini. Selain itu, dari segi ekonomi dapat menyebabkan kemiskinan dikarenakan usia yang belum cukup dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari disebabkan tidak adanya pekerjaan menetap dan pengeluaran sehari-hari cukup banyak.
Ditinjau dari segi sosial yaitu terjadi perceraian dini, perspektif buruk dari masyarakat sekitar, dan kesenjangan antar pasangan sehingga dapat memancing timbulnya kekerasan seksual (sexual harassment) dikarenakan faktor emosi para remaja yang tidak stabil. Seperti yang dijelaskan oleh Abdi Fauji Hadiono dalam jurnalnya yang berjudul “Pernikahan Dini dalam Perspektif Psikologi Komunikasi” 2018 menyebutkan bahwa masa remaja disebut sebagai periode Hightened Emotional. Dimana kondisi emosi nampak lebih tinggi atau nampak lebih intens dibanding keadaan normal. Sehingga menyebabkan berbagai tingkah laku seperti halnya uring-uringan, bertengkaran, tidak bergairah dan lain sebagainya.
Pernikahan dini seringkali dianggap sebagai solusi. Dalam kata lain yaitu MBA (Married by Accident) dimana pasangan remaja di usia dini menikah karena suatu kecelakaan. MBA dianggap sebagai solusi karena perspektif masyarakat yang masih bersifat kedaerahan dan erat dengan budayanya. Mereka menganggap bahwa MBA adalah sebuah solusi yang tepat. Padahal, apabila dilihat dari perspektif lain dengan pemikiran jangka panjang, MBA bukanlah suatu hal yang sepenuhnya positif, melaikan suatu hal yang memberikan banyak dampak negatif untuk invidu kedepannya.
Terjadinya MBA dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi terjadinya MBA yaitu:
Jadi sudah jelas bahwa pernikahan dini bukanlah hal yang sepenuhnya positif. Banyak sekali dampak-dampak negatif yang diberikan. Seperti dari segi ekonomi, kesehatan, sosial, dan lainnya. MBA juga bukanlah suatu solusi yang efektif bagi para remaja Indonesia.
JAKARTA - Stablecoin memiliki peran penting di ekosistem kripto sebagai jembatan antara mata uang fiat…
JAKARTA - Bitcoin, mata uang digital pertama di dunia, telah menarik perhatian investor, perusahaan, dan…
Di era teknologi informasi dan keuangan terdesentralisasi, para pedagang dan bisnis aktif mencari cara inovatif,…
JAKARTA - Bitcoin (BTC) adalah salah satu cryptocurrency paling terkenal dan paling banyak diperdagangkan di…
Ditulis oleh Ririn Murfriantika, Mahasiswi S1 Keperawatan UIMA Hai, kawan-kawan! Siapa bilang sukses hanya bisa…
Ditulis oleh Riansyah, Mahasiswa S1 Keperawatan UIMA Hai, teman-teman! Saat ini kita sedang fokus sebagai…
This website uses cookies.